Feeds:
Pos
Komentar

Pasangan pemelai menggunakan pakaian adat lengkap dengan hiasan gigi macan dan bulu-bulu burung enggang.

  

perkawinan
mahkota adat

 Sebelum perkawinan dilangsungkan, pempelai pria menjemput pempelai perempuan diiringi olah tokoh-tokoh adat dan kepala adat.

mempelai perempuan dan pria

mempelai perempuan dan pria

Setelah penjemputan diadakan perarakan keliling kampung menuju rumah pempelai pria
perarakan
perarakan

 

perarakan menuju rumah pempelai pria

perarakan menuju rumah pempelai pria

  

Iklan

Culture

Traditional Dances
The Journey to The Outback of Apo Kayan

Traditional Dances in Apo Kayan and Sungai Boh East Borneo  Dear friends. May God’s love be with you always.

In this Journey we are about to share with you our journey witnessing traditional dance of

Dayak Kenyah. We will invite you to observe it at back country. The people there -in Apo Kayan- still preserve the dance. It is usually performed in wedding ceremony, welcoming important guests, the celebration of Indonesian Independence Day, and feasts. We can watch many kinds of dances: those performed by several dancers, tunggal dances and gerak sama  dances.  Dance for all image036.jpg   image004.jpg  Dance for allThis is an opening dance, starting off a ceremony and calling people to gather. An indigenous man leads the dance. He is to be followed by others. As they dance, they walk around the room. Every now and then they jerk off their feet to the floor and cry out “whaa”. Calling people and encouraging them to come, this dances raise up the morale.

 image008.jpg  image014.jpg image012.jpg

Tunggal dance.

Performed by one person, this dance is for all, i.e., anyone is allowed to perform it. Beauty, stillness, slow motion and expression are the bench marks of this simple yet elegant dance. Traditional music and costume create marvelous harmony. Like Enggang bird flying in the sky, the dancer moves gracefully with black-and-white Enggang feathers in hands. The bird dwells within Borneo forests. Unfortunately their existence is endangered due to excessive hunting. Thus this exquisite Enggang has now been virtually in extinction.

War dance from lebusan  image022.jpg  image018.jpg

War dances. A Mandau and a shield are symbols of bravery of a man in a battlefield. They sway in the hands of a man wearing the crown of Enggang feather with fur on the chest like a strong hero dancing valiantly defending his tribe and its area. The rhythms of sampek unify the moving body with soul. All yield the real pomp and circumstances.

 image042.jpg  image048.jpg image024.jpg

Gerak Sama dances. Harmony and togetherness are core of the dance. As a group they gracefully waggle the feathers. Usually women dance it. They are so pretty, graceful and bewitching.

From The parish to The Station 

Hello, Dear friends

I am Paul. I am a priest of Saint Luke parish of Apo Kayan. My friends and I visit people in the stations of my parish at the outback of the hills every week.

p-paul-small.JPG2.JPG

Our journeys are always enjoyable ones as we can view the nicest and most picturesque scenery around us. Forests, rivers, insects, birds, flowers are some of them. Walking through muddy roads, crossing rivers among the big trees deep in the jungle are what we undergo every time. We are grateful to God as He gives this dramatically perfect beauty right here in the nature.

31.JPG

Forests and rivers are our friends. We feel alive since they have been giving the fresh air we breathe.Of course, we sleep outdoors: being embraced by nature, which provides everything we need…for free!.          

4.JPG5.JPG

 Oftentimes, leeches suck the blood right out of our feet and legs. Somehow leeches can never obstruct us to visit people in stations. They are an unending variation to our journey. 

6.JPG7.JPG

Friends,After escaping the forests, another challenge is waiting. Now it’s the time for crossing rivers.

8.JPG 9.JPG

They are capricious ladies: keep on changing the tides, floods and ebbs. This can be dangerous. When it’s flooding, we may find ourselves surrounded by woods that are ready to overthrow our raft. When it ebbs absolutely, the rivers become so shallow that our raft can never cross since its bottom reaches that of the rivers.

10.JPG 

One more thing, when rivers are shallow, we are surrounded by rocks, lingering to break our raft into pieces.Praise the Lord, anytime we find the rapids capturing us, You bless us and let us pass through them.You are our strength to achieve prudence of life.    

12.JPG13.JPG

Long journey may make us tired. But, the love of God supports us, giving extraordinarily perfect health. He prepares our meals.

14.JPG 

16.JPG

Absolutely perfect endowments! Having caught some fish, we have good lunch with the music created by the river to refresh our mind and body.  

God always gives you a gift even before you celebrate your birthday.               

17.JPG

2. Umat Paroki Apo Kayan

Keadaan Umat paroki apo Kayan akan diuraikan menurut stasi-stasi yang ada di Paroki secara singkat. 

Stasi Long Nawang

peta2.JPG

Umat stasi di Long Nawang hanya 2 KK. Berkurangnya umat dikarenakan banyak yang pindah tempat ke Malaysia atau ke daerah kecamatan Kayan Selatan. Penambahan umat katolik terjadi karena kedatangan pegawai pemerintahan yang bertugas di Long Nawang, misalnya bidan, mantri kesehatan, guru. Di Long Nawang sudah tersedia Sekolah Dasar, SLTP dan SLTA negeriKehidupan ekonomi umat katolik disini cukup baik kerena sebagian besar pegawai pemerintahan.

Umat yang berdiam sudah beragam suku antara lain suku Dayak Kenyah Lepog Tou, suku dayak Bahau, dan Toraja. Umat stasi hidup berdampingan dengan umat Kristen GKII.Perjalanan dari pusat paroki Apo Kayan ke Long Nawang ditempuh dengan Perahu bermotor (ches) waktu tempuh kurang lebih 1 Jam, jalan kaki kurang lebih 4 jam,dan naik sepeda motor 1 jam. Naik ches dan sepeda motor tergantung kondisi jalan karena hujan dan persediaan bahan bakar bensin. Bisa terjadi bahan bakar bensin tidak ada persediaan di desa karena belum ada kiriman dari Malinau dan perbatasan. Harga bensin di Long ampung bisa mencapai 18-20 ribu rupiah per liter.  

Pusat Paroki St Lukas Metulang-Long Ampung         

Stasi Metulang dan long Ampung memiliki jumlah umat kurang lebih 300 jiwa. Sebagian besar mereka adalah suku Kenyah Lepoq Jalan. Yang paling banyak umatnya adalah di daerah Metulang. Sebagian besar umat hidup berladang dimana satu tahun sekali panen. Pekerjaan lain selain berladang adalah mencari madu hutan pada bulan-bulan tertentu biasanya bulan Februari-Maret. Mencari kayu bila ada pesanan dari proyek-proyek pemerintah dan menawarkan jasa mengantar orang-orang desa Long Nawang dari bandara Long Ampung. Beberapa pemuda  bekerja merantau sebagai tukang potong”gesek” pohon ke Malaysia di daerah perbatasan. Setelah mereka dapat uang pulang kembali ke kampung dengan membawa barang-barang elektronik, mesin perahu, pakaian, perhiasan emas dsb.  Di Metulang sudah ada Sekolah Dasar, SLTP dan SLTA swasta. Namun sekolah tersebut tidak memadai dan sangat sederhana. Beberapa dari pemuda-pemudi bersekolah di Tarakan, Malinau dan Samarinda. Kendala yang dihadapi masalah biaya.Umat katolik di stasi ini hidup berdampingan dengan umat Kristen GKII. Umat Kristen GKII berpusat di desa Long Ampung. 

Stasi St Sisilia Lidung Payau         

Perjalanan dari pusat paroki ke Stasi St Sisilia bisa ditempuh dengan jalan kaki dan sudah bisa dengan sepeda motor serta naik ches. Jalan kaki kurang lebih 2 jam, sepeda motor ½ -1 jam tergantung kondisi jalan setelah hujan karena masih tanah, berlumpur dan bekas ladang, gereja2.jpgnaik ches kurang lebih ½-1jam tergantung kondisi air sungai banjir atau kering. Jumlah umat di stasi ini kurang lebih 200 jiwa, mereka sebagian besar adalah suku kenyah Lepoq Tou dan 2 orang suku jawa. Kehidupan sehari-hari mereka adalah berladang. dua orang menjabat sebagi guru sekolah dasar dan berjualan kebutuhan sehari-hari. Mata pencarian tambahan adalah mencari madu hutan, gaharu dan pergi ke Malaysia. Untuk hasil madu banyak umat baik paroki dan stasi mengeluh kesulitan penjualannya karena biaya transportasi sehingga harga menjadi mahal.Pendidikan yang ada hanyalah sekolah dasar. Untuk mendapatkan pendidikan SLTP atau SLTU mereka harus pergi ke Metulang-Long Ampung atau ke Long Nawang. Ada juga beberapa pemuda dan pemudi yang bersekolah di Tarakan dan Samarinda, dan banyak dari mereka yang kesulitan biaya sekolah. Umat hidup perdampingan dengan umat Kristen GKII dan GPIB.

Stasi St Petrus Sungai Barang         

Stasi sungai barang adalah stasi yang masih asri berada di dataran tinggi dan udaranya dingin. Perjalanan ke stasi dari pusat paroki bisa ½ hari. Dari stasi Lidung Payau kurang lebih 3 jam jalan kaki sampai Stasi Sungai Barang. Kendaraan dan ches tidak bisa digunakan. Jalan yang dilewati naik bukit, kadang sempit dan kadang terjal, melewati anak sungai kalau hujan airnya bisa menjadi deras. Sungai tidak bisa dilewati karena banyak riam yang berbahaya. Perjalan dari stasi Lidung Payau ke stasi Sungai Barang harus mendaki bukit “apo lala” yang bisa menguras keringat dan menghabiskan nafas. Namun demikian sekarang sudah dibangun pondok-pondok peristirahatan bagi pejalan kaki untuk melepas lelah. Ada tiga pondok, setiap pondok berjarak kurang lebih 1 jam jalan kaki. Jumlah umat di Stasi Sungai Barang kurang lebih 200 jiwa suku kenyah Lepoq Tukung. jembatan2.JPGBeberapa umat ada yang pindah ke Stasi Agung Baru. Sebagian besar pekerjaan mereka berladang. Yang masih muda bisa mencari gaharu .Pendidikan yang tersedia di desa ini hanya Sekolah Dasar. Untuk bersekolah SLTP dan SLTU mereka pergi ke desa Metulang-Long Ampung dan Long Nawang. Beberapa anak bersekolahkan di Tarakan, Malinau dan Samarinda. Kendala yang dihadapi besarnya biaya bersekolah dikota besar dan sarana transportasi untuk pulang ke rumah kampung. Umat hidup berdampingan dengan umat Kristen GKII. 

Stasi St Maria Goreti Agung Baru         

Perjalanan ke stasi Agung Baru dari sungai barang bisa ½ hari lebih tergantung cuaca dan hujan bisa membuat sungai banjir sewaktu-waktu. Perjalanan   ditempuh dengan naik ches sampai kaki bukit Mose. Setelah itu perjalan dilanjutkan dengan berjalan kaki 3-4 jam ke daerah yang di sebut Plaudian atau Sungai Payang Perjalan ke Plaudian dan sungai Payang tergantung hujan dan kondisi air sungai. Kalau sungai banjir perjalanan tidak bisa di teruskan dan harus bermalam di tengah hutan. Diperjalan banyak pacet yang menunggu menghisap darah, lebih-lebih bila keadaan tanah basah setelah hujan malam hari. Dari Plaudian atau Sungai Payang ke Stasi Agung Baru naik ches kurang lebih 4-5 jam, perjalanan ini juga tergantung kondisi air sungai kalau banjir sungai sangat berbahaya dan melewati riam yang sulit dilewati. Perjalanan ke stasi Agung Baru sangat luar biasa, penuh tantangan dan mengesankan. Jumlah umat di Stasi Agung Baru kurang lebih 150 jiwa sebagian besar suku kenyah Lepog Tou dan Lepoq Tukung. Kehidupan dan mata pencarian mereka yaitu berladang dan pergi ke hutan mencari gaharu. Pencarian lain yaitu mendulang emas pada waktu air sungai tidak banjir. Emas yang didapat adalah emas pasir (kecil-kecil seperti pasir). Mendulang emas hasilnya tidak tentu. Desa mendapat jatah minyak 1 drum setiap bulan untuk penerangan desa dari perusahaan kayu yang beroperasi di wilayah mereka. Sekali sebulan perusahaan juga menyediakan pelayanan transportasi truk masyarakat desa untuk berbrlanja di desa Long Bagun di tepian sungai Mahakam, wilayah Kabupaten Kutai Barat. Sedangkan untuk tansportasi ke kabupaten Malinau mengandalkan pesawat milik MAF yang beberapa minggu sekali mendarat di bandara perintis di Kecamatan Mahak.          Pendidikan yang tersedia di desa ini hanya sampai Sekolah Dasar. Pendidikan SLTP hanya ada di pusat kecamatan Mahak dan di desa tetangga yaitu desa Lebusan. Untuk pergi ke SLTP di Mahak harus berjalan 3 jam. Kalau ke SLTP Lebusan harus menginap di tempat saudara di Lebusan. 

Stasi Santo Tarsisius Lebusan

Stasi Lebusan adalah stasi yang mempunyai jumlah umat terbesar dari umat stasi lain dan pusat paroki. Jumlah diperkirakan 500 orang. Rata-rata mereka suku Kenyah, ada 1 orang suku jawa dan 2 orang suku dari NTT. Untuk sampai ke stasi Lebusan dapat di tempuh dari dua rute. Rute pertama dari Stasi Agung Baru, perjalanan ini memakan waktu 45 menit  jalan kaki dan 1 1/2 jam naik ketinting (ches). Perjalanan kaki ini melewati sebuah bukit kecil pinggiran sungai yang banyak pacetnya, dimana jalan ini jarang dilalui orang  Rute ke dua dari Stasi Mahak ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 3 jam dan naik ketinting 30 menit.          Kehidupan dan mata pencaharian mereka dari berladang, mencari gaharu, mendulang emas di sungai. Penghasilan mereka tidak menentu dan sulit dipastikan taraf kesejahteraan mereka. Desa mendapat 1 drum minyak setiap bulan untuk penerangan desa dari perusahaan kayu yang beroperasi di wilayah desa.Umat terdiri dari suku Kenyah Lepoq Tou dan Lepoq Tukung. Mereka hidup berdampingan dengan umat Kristen GKII. 

Stasi Santo Markus Dumu Mahak   

Stasi Santo Markus Dumu Mahak letaknya tepat di pusat Kecamatan Sungai Boh atau Kecamatan Mahak. Kecamatan ini termasuk lebih maju pesat perkembangannya di bandingkan dengan kecamatan di wilayah Apo Kayan. Kemajuan ini dilihat adanya jalur kendaraan yang menuju desa Batu bajang dan Long bagun rute kapal feri sungai Mahakam ke Kota Samarinda. Angkutan masyarakat difasilitasi dan dilayani oleh perusahaan kayu. Sama seperti warga desa Agung Baru dan Lebusan, Warga desa Mahak baru dan Dumu Mahak diberi kesempatan belanja ke Long Bagun setiap satu bulan sekali. Kemajuan lainnya mulai di bangun tower Telkomsel sebagai sarana komunikasi memakai telepon seluler. Tower ini direncanakan bisa beroperasi dalam tahun 2007.           Penduduk di desa ini sudah mulai beragam, penduduk asli suku kenyah bergaul dengan suku pendatang yang lain. Orang- orang pendatang sebagian besar adalah karyawan perusahaan kayu. Mereka beragam ada jawa, banjarmasin, bugis, NTT, Flores, Jawa barat dll. Perkembangan ini juga terjadi dalam warga gereja katolik. Sekarang ini warga katolik yang menetap berjumlah 122 jiwa, 33 kk belum ditambah warga katolik pendatang karyawan perusahaan kayu.Perjalan menuju stasi Mahak bisa di lalu dari dua rute. Rute pertama lewat Apo Kayan ke stasi sungai Barang terus ke Stasi Agung Baru dilanjutkan naik ketiting ke sungai trengak dan jalan kaki selama 3 jam ke stasi Mahak. Rute ke dua dari kota Samarinda naik kapal feri sungai Mahakam sampai Stasi Batu Majang kemudian dilanjutkan naik kendaraan perusahaan Kayu menuju ke Stasi Mahak. Perjalanan, kalau lancar, tergantung kendaraan perusahaan,diperkirakan 3 hari 2 malam dari Samarinda ke Stasi Mahak.Sekolah dasar, SLTP dan SLTU sudah ada di kecamatan Mahak, meskipun belum memenuhi standar sekolah pada umumnya, lebih-lebih sekolah SLTUnya. Banyak keluhan dari para murid bahwa pelajarannya tidak sebaik yang diterima teman-teman mereka yang bersekolah di Long bagun, Samarinda dan Tarakan. Sekolah SLTU ini menerima murid dari Desa Lebusan, Agung Baru dan Mahak sendiri.Paroki Apo Kayan yang memiliki enam stasi dengan segala pergulatannya masih tetap bertahanan dan berkembang meskipun sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi. Iman umat masih bertahan meskipun dalam kesederhanaan dan kesibukan mereka pergi keladang, kehutan untuk kehidupan mereka. Cuaca yang sering hujan, sungai yang deras beriam, jalan yang becek belum beraspal, hutan yang banyak pacetnya tidak mampu menghentikan iman dan kekatolikan mereka. Umat tetap yakin akan kekuatan Allah yang menciptakan semuanya baik adanya.(Gusti Pr/Paskah III 07)

Paroki Apo Kayan adalah paroki pedalaman di wilayah keuskupan Tanjung Selor. Di bawah ini akan diuraikan keadaan paroki secara umum, letak wilayah , jumlah umat, kehidupan sehari-hari mereka dan pendidikan yang ada di desa atau stasi. Tujuan penulisan ini dipersembahkan untuk mengenang 100 tahun Keuskupan Samarinda.  Diharapkan dengan tulisan ini dapat menambah pengetahuan umat yang sudah mengenal atau belum mengenai keberadaan salah satu paroki pedalaman yang selalu terbuka untuk diziarahi.

 1. Wilayah Paroki Apo Kayan 

apokayan1.jpg

Wilayah Gereja Kaltolik Paroki St Lukas Apo Kayan terletak didalam wilayah  tiga kecamatan yang termasuk daerah pemerintahan kabupaten Malinau. Kabupaten Malinau itu sendiri termasuk daerah Propinsi Kalimatan Timur yang termasuk juga daerah di wilayah utara pulau kalimatan. Kabupaten ini berusia kurang lebih 5 tahun. Tiga kecamatan yang menjadi wilayah pelayanan pastoral Paroki Apo Kayan meliputi Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Selatan dan Kecamatan Sungai Boh. Daerah kecamatan Kayan Hulu dan selatan disebut juga sebagai daerah perbatasan dengan negara Malaysia, serawak bagian timur. Wilayah ini disebut Apo Kayan karena berada di wilayah perbukitan yang dilalui sungai Kayan atau daerah hulunya sungai Kayan.

Umat Stasi yang berada di wilayah Kecamatan Kayan Hulu berada di desa Long Nawang. Sedangkan umat Stasi yang berada di wilayah Kecamatan Kayan Selatan meliputi desa Metulang-Long Ampung, Lidung Payau, Sungai Barang. Yang berikutnya Umat Stasi di desa Agung Baru, Lebusan, Data Baru, Mahak berada di wilayah Kecamatan Sungai Boh atau disebut juga Kecamatan Mahak. Kecamatan ini adalah daerah  kabupaten Malinau yang paling selatan berbatasan dengan kabupaten Kutai Kertanegara dan Kutai Timur.

Pusat Paroki St Lukas Apo Kayan terletak di desa Metulang berdekatan dengan desa Long Ampung yang termasuk daerah pemerintahan Kacamatan Kayan Selatan. Dipilihnya pusat paroki didaerah ini berdekatan dengan bandara udara perintis. Dimana Bandara perintis Long Ampung (Apo Kayan)  merupakan yang terbaik, sudah beraspal, daripada bandara perintis yang ada di daerah Kecamatan-kecamatan Apo Kayan yang lainnya. Pesawat perintis adalah satu-satunya sarana transportasi yang sangat penting bagi masyarakat sekitar Apo Kayan menuju kota Kabupaten Malinau, Tarakan dan Ibu Kota Propinsi Samarinda untuk pelbagai keperluan. Ada ceritera yang mengatakan bahwa meskipun orang pedalaman tapi sering naik pesawat terbang. Sampai sekarang tidak ada jalan darat atau sungai yang dapat memasuki Wilayah Apo Kayan. Tiadanya jalan darat ini semakin membuat masyarakat tergantung dengan kelancaran pesawat, misalnya untuk anak sekolah, kebutuhan sehari-hari seperti garam, gula, orang sakit dan banyak lagi lainnya.

apokayan2.jpg

Paroki Apo Kayan dan daerah stasi-stasi sebagian besar adalah desa-desa pedalaman yang dikelilingi ladang masyarakat, hutan, sungai dan perbukitan. Perjalanan dari paroki ke stasi yang terdekat, misalnya stasi Lidung Payau bisa ditempuh dengan jalan kaki lebih kurang 2 jam, atau naik ketinting lebih kurang ½ jam – 1 jam tergantung kondisi sungai. Bisa juga ditempuh menggunakan sepeda atau sepeda motor bila cuaca tidak hujan. Sepeda motor dan Ketinting (ches) bisa digunakan bila tersedia bahan bakar bensin yang didatangkan dari perbatasan malaysia atau dari malinau. Sering terjadi bahan bakar tidak serdia karena transportasi pesawat terhambat , jikalau ada persediaan harganya luar biasa mahalnya 1 lt bisa mencapai 18-25 ribu rupiah. Bahan bakar dari Malaysia biasanya bensin campur yang tidak sesuai dengan mesin produksi dalam negeri.

Dilihat dari daerah, jalur sungainya dan rute turne ke stasi, wilayah Paroki Apo Kayan bisa dibagi menjadi 2 bagian. Bagian yang pertama adalah wilayah Apo Kayan itu sendiri. Wilayah Apo Kayan meliputi Stasi Long Nawang (Kecamatan Kayan Hulu),dan Stasi St Lukas Metulang-Long Ampung, St Sisilia Lidung Payau, St Petrus Sungai Barang yang berada di Kecamatan Kayan Selatan. Yang Kedua, Wilayah Sungai Boh (Kecamatan Sungai Boh) meliputi Stasi St Maria Goreti di desa Agung Baru, St  Martinus di desa Lebusan, St  Markus di Desa Dumu Mahak. Pembagian ini menurut sungai dan rute dari paroki ke stasi Agung Baru, Lebusan dan Mahak. Perbedaan ini terasa setelah dari stasi Sungai Barang (kecamatan Kayan Selatan) menuju Stasi Agung Baru (Kecamatan sungai Boh) melewati bukit  “bukit Mose” dan sungai Payang yang disebut juga hulunya sungai Boh, daerah ini bisa dikatakan batas kedua daerah. Waktu tempuh antara kedua daerah ini begitu lama bisa 1 hari perjalanan baik dengan berjalan kaki dan naik ketinting atau ches (perahu kayu bermotor). Selain itu stasi-stasi wilayah Kecamatan Sungai Boh juga bisa ditempuh melalui Samarinda naik kapal feri lewat sungai Mahakam dan berhenti di stasi Batu Majang wilayah Paroki Ujo Bilang, masuk di wilayah kabupaten Kutai Barat dan Keuskupan Samarinda. Untuk sampai di Stasi Mahak dari Batu Majang harus menunggu kendaraan perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di daerah ini. Kendalanya kendaraan yang menuju ke stasi Mahak tidak setiap hari ada dan waktu tempuhnya 8 jam.